Citizen Journalism - Muda, Beda dan Berbudaya -

Kisah Siti Fadilah Supari Membongkar Sindikat Mafia AntiVirus Global

DR. dr. Siti Fadilah Supari / ig
TribunMuda - wabah Corona virus yang sedang mengganas di saentero dunia mengingatkan kita pada sosok perempuan tua pemberani yang kini dalam penjara: mantan Menteri Kesehatan RI yang pernah membongkar konspirasi mafia farmasi global, jaringan pedagang vaksin internasional dari hasil pencurian sampling virus yang tengah mewabah pada suatu negara berkembang.

Siti Fadilah Supari, wanita idealis yang nekad melawan mainstream, dia bahkan menulis buku yang esensinya membongkar modus operandi mafia farmasi (dalam kasus flu burung) yang melibatkan negara adidaya dan menggugat WHO yang tak berkutik pada konspirasi mafia farmasi yang mengail di air keruh bencana virus. Majalah The Economits London kala itu memujinya sebagai tokoh revolusioner pandemik yang kekuatannya melebihi vaksin manapun, yaitu transparansi (the economist edisi 10 agustus 2006). 
Perjuangannya membongkar mafia virus tak mendapat dukungan dalam negeri, bahkan terhenti seiring dengan lengsernya Siti Fadilah S sebagai Menteri Kesehatan, lalu tiba-tiba dituduh Korupsi. Dan akhirnya tragis: tokoh yang pernah membuat bergetar Departemen Pertahanan US ini (Fadilah menyorot NAMRU Project militer Amerika di Indonesia) divonis bersalah dan meringkuk di penjara hingga tahun 2020 ini.

Mari kita pahami lagi siapakah sosok Siti Fadila Supari dan masih relevankah idealismenya di tengah situasi negeri yang lagi diguncang virus Corona ini? 

Ada satu tulisan lama (19/3/2008) yang menarik untuk disimak yaitu yang di muat di situs www.itb.ac.id berikut ini kita muat secara lengkap:

Menkes: Tangan Tuhan Dibalik Flu Burung
itb.ac.id - Bertempat di Aula Timur, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Siti Fadilah Supari, Senin (18/3) memberikan kuliah umum bertajuk "Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung". 

Dalam kesempatan ini, Menkes berbagi pengalaman menangani persoalan virus Flu Burung di Indonesia sekaligus keberhasilannya mereformasi mekanisme Jaringan Pembagian Virus Influensa Global (GISN) menjadi lebih adil dan transparan. 

Menkes berkisah, suatu kali datang seorang salesman vaksin dari negara maju, menawarkan vaksin flu burung strain Vietnam. Setelah ditelisik, mereka mendapat benih virus dari Pusat Kolaborasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO-CC), yang berasal dari virus liar milik negara penderita yang mengirim virus. 

Dengan kata lain, negara maju dengan keunggulan teknologi dan ahli-ahlinya memproduksi dan menjual vaksin dengan memanfaatkan benih virus yang diambil dari negara penderita. Mekanisme semacam ini, menurut Menkes menjadi tidak adil karena paten vaksin sepenuhnya dikuasai oleh negara maju. 

Kekecewaan Menkes semakin bertambah-tambah mendapati WHO tidak bergeming ketika Indonesia sangat membutuhkan vaksin tamiflu, tapi stok vaksin bernama generik aseltamivir ini justru ludes diborong negara kaya yang tidak mempunyai satu pun kasus flu burung. 

Belajar dari kenyataan pahit tersebut, Menkes lugas berujar, "Mereka tidak menolong namun malah mencari keuntungan pada orang yang sedang menderita. Yang menderita tambah sengsara, sementara yang kaya bertambah kaya. Mengapa uang lebih penting dari nyawa manusia? Mengapa nyawa manusia di negara berkembang lebih murah dibanding nyawa manusia dari negara kaya? Apakah ini yang disebut neo-kolonialisme?" Berpikir Ilmiah demi Kebenaran Siti mengaku berani berjuang menghadapi kedzaliman sistematis ini demi menegakkan kebenaran. 

"Saya selalu berpatokan kepada kerangka berpikir ilmiah." "Berpikir ilmiah menghasilkan pemikiran merdeka, bisa dipertanggung jawabkan, sistematis, logis, demokratis, dan objektif. Berpikir secara ilmiah sudah mendarah daging dalam tubuh saya!," ujarnya lagi. Logika yang tidak logis dalam mekanisme pembagian virus seperti diatur dalam mekanisme GISN membuat Menkes gerah jika hanya berdiam diri. Dorongan inilah yang memberikan energi keberhasilan perjuangan Menkes mereformasi sistem pembagian virus yang sudah berakar hampir 60 tahun itu. 

Sayangnya, menurutnya, tidak sedikit ilmuwan yang kini sudah terjebak pusara kepentingan tertentu, sehingga menghambat proses pikir ilmiah. Kontaminasi kepentingan membuat ilmuwan terbelenggu dan akhirnya gagal menegakkan kebenaran. Menurut Siti, berpikir ilmiah membutuhkan hati nurani, dan kebesaran jiwa untuk menepikan kepentingan pribadi. 

Mengakhiri pidatonya, wanita yang pernah mendambakan kuliah di jurusan Pertambangan ITB ini berharap kampus menjadi benteng kokoh yang mampu bertahan dari ancaman pihak luar yang sering berlindung dibalik topeng penelitian namun sarat dengan kepentingan tertentu yang justru membahayakan peradaban manusia. Kampus hendaknya memiliki peneliti yang teguh, konsisten dalam mencari dan menegakkan kebenaran. Lingkungan akademik harus menularkan sikap mental berpikir merdeka kepada segenap masyarakat Indonesia agar berkontribusi bagi peraihan kembali kejayaan bangsa. 

Seusai memberikan pidato ilmiah, Menkes membuka sesi diskusi yang dipandu langsung oleh Rektor ITB Djoko Santoso. Meskipun berlangsung saat jam kuliah, pidato ilmiah Menkes dipadati oleh mahasiswa dan dosen yang tertarik mengetahui kisah perjuangan menteri wanita ahli jantung pembuluh ini.

Sekarang, kita paham siapa beliau dan patut kita curigai bahwa konspirasi global yang menggunakan agen-agen lokalnya telah sukses membungkamnya. Namun, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Tunggulah. #red1

Subscribe to receive free email updates: