Citizen Journalism - Muda, Beda dan Berbudaya -

Sejarah Panji : Inilah Kisah Integrasi Fase Awal Nusantara yang Melegenda

Ilustrasi : situs sejarah / Foto.MNews
TribunMuda - Ulasan sejarah ini dikutip dari buku Pancasila Dasar Negara Sudah Final tulisan Budayawan Drs. Peni Suparto, M.AP atas ijin beliau. Yaitu tentang kisah persatuan (integrasi) pada fase-fase awal Nusantara atau yang umumnya disebut fase Dwipantara, yaitu era integrasi (kembali) dua kerajaan kembar yang sebelumnya dipecah oleh Mpu Baradah atas perintah Raja Airlangga dalam menghindari konflik istana di zaman itu. Panjalu beribukota di Dahanapura (Kediri sekarang) dengan Jenggala berpusat di UjungGaluh (sekarang Sidoarjo dan sekitarnya).

Integrasi “Tanah-Air” dari Persatuan Panjalu - Jenggala yang Inspiratif
Dikotomi antara negeri daratan “Tanah” dan negeri laut “Air” berpotensi menjadi ancaman ketika Panjalu (di kawasan Pedalaman) membangun satuan angkatan darat besar-besaran, bahkan dalam beberapa catatan sejarah disebutkan Panjalu memiliki satuan militer berpenunggang gajah dengan keahlian menggunakan berbagai senjata yang tak tertandingi. Pertempuran darat tidak mungkin bisa dihadapi oleh Jenggala yang hanya memiliki kekayaan ekonomi dan armada pantai utara.

Ketika dua negara otonom yang semula sentralistik (naungan Kahuripan) sedang sama-sama berada dalam masa kemegahan dan sama-sama waspada terhadap kemungkinan keserakahan kekuasaan salah satu di antara mereka, maka ancaman invasi membayangi kedua wilayah yang berdekatan tersebut. Konflik lantaran perebutan wilayah kekuasaan sering terjadi di era-era sebelum dan sesudahnya.

Jenggala bisa saja resah dengan mobilisasi militer Panjalu yang dilakukan secara tak wajar, sementara Panjalu sangat mungkin merasa khawatir dengan akses Jenggala yang sudah berkenalan dengan teknologi perang luar negeri melalui tanjungnya yang terhubung dengan dunia luas di seberang lautan pantura. Panjalu juga menguasai lalulintas dagang dalam negeri di sepanjang kali Berantas yang bermuara di Porong.

Jika demikian maka atmosfir politik kedua negara tidak kondisif, berada dalam situasi saling curiga dan tidak tenang. Perang pasti akan pecah tinggal pihak mana yang mendahului. Kepentingan lebih abadi dari persaudaraan Panjalu-Jenggala. 

Akhirnya disadari bahwa bersatu lebih penting dan lebih strategis bagi masa depan kedua kerajaan. Imperium ini akan lebih jaya jika berada dalam satu naungan kekuasaan tunggal dengan tetap menerapkan konsep otonomi berbasis potensi maritim bagi Jenggala dan Agraris bagi Panjalu.

Tekad untuk menyatukan Panjalu (darat) dan Jenggala (laut) dimulai dengan rencana melakukan pernikahan politik antara putra dan putri mahkota, yang banyak diabadikan dalam sejarah dan sastra lama seperti serat Asmaradahana (asmara api) antara pangeran Inu Kertapati (Panji) dan Putri Dewi Sekartaji Candrakirana. Perkawinan merupakan langkah politik yang sudah umum dilakukan untuk memperkokoh persatuan antara dua kekuasaan. Rencana perjodohan antara Pangeran Inu Kertapati dengan Putri Mahkota Dewi Sekartaji bukan untuk sekedar harmonisasi melainkan untuk integrasi, persatuan abadi antara Panjalu – Jenggala. 

Rencana besar ini terancam kandas. Perjodohan ternyata tidak berjalan mulus karena pangeran Inu menentang tradisi tersebut dengan menghilang dari istana, menyamar menjadi pengelana (kisah Panji Semirang). Dikisahkan, Pangeran Inu pergi dari istana sebagai bentuk penolakannya terhadap dikte kekuasaan atas asmara yang dipandangnya sebagai kewenangan individu. 

Dengan menyamar sebagai rakyat biasa dia berpetualangan, melintasi banyak daerah-daerah. Salah satunya Kepanjian (sekarang Kepanjen, Malang). Di daerah ini sejak lama sudah berkembang tradisi pembuatan topeng dan budaya tari topeng Panji sebagai kenangan simbolik atas kisah penyamaran legendaris pangeran Inu Kertapati.

Pelarian pangeran Inu mengancam kesepakatan politik antara Panjalu – Jenggala. Kondisi menjadi tambah runyam dengan juga menghilangnya putri mahkota Dewi Sekartaji dari istana sehingga rencana persatuan teracam gagal dengan alasan yang memalukan. Sejarah akan mencoreng kegagalan integrasi tersebut.

Raja Panjalu yang sudah mempersiapkan pesta besar murka dan mengancam membariskan pasukannya untuk meratakan tanah Jenggala menjadi puing-puing. Jenggala pun mempersiapkan diri menghadapi bala tentara Panjalu dengan semangat Bharatayudha. Bersatu atau mati. Siap maju meski jadi arang karena mundur menjadi abu. 

Tetapi sejarah berkata lain.
Ketika pada akhirnya, jodoh mempertemukan kedua pengelana muda tersebut di tanah Bali, tanah damai yang indah dimana kini menjadi tempat wisata terbaik dunia. Takdir mewujudkan persatuan Panjalu dan Jenggala. 

Tanah dan air yang bersatu adalah keniscayaan yang menjanjikan kebesaran. Tahun 1115 menjadi awal dari bangunan besar “negara” bercorak tanah-air yang dikemudian hari menginspirasi kekuasaan-kekuasaan besar seperti Singhasari dan Majapahit untuk membangun persatuan di bawah sumpah palapa.

Catatan di atas perlu dihadirkan kembali untuk mematahkan logika-logika berpikir yang menyatakan bahwa untuk merajut suatu perubahan dan persatuan selalu diawali dari revolusi berdarah. Tidak semua perubahan terjadi dari konflik berdarah yang mengorbankan rakyat bawah. Perubahan justru dibangun dari konsensus damai yang sejalan dengan nilai tradisi dan kearifan budaya pada zamannya. Solusi terbaik adalah jalan keluar tanpa darah.

Terbukti pasca terbentuknya tanah-air satu Panjalu Raya tersebut melahirkan pemimpin-pemimpin cerdas seperti Prabu Jayabaya (Joyoboyo) yang kekuasaannya disebutkan masuk dalam empat besar imperium terjaya zaman itu bersama Tiongkok, Arab (Dinasti Abbasiyah) dan Sumatera.

Kejayaan bangsa Panjalu ini didokumentasikan dengan baik dalam literatur asing seperti kronik Cina berjudul Ling wai taita karya Chou Ku-fei tahun 1178, buku Chu-fan-chi dan lainnya. (ed-lig).

Subscribe to receive free email updates: