Citizen Journalism - Muda, Beda dan Berbudaya -

Budaya Gotong Royong dalam Peradaban Nusantara Lama

Tangga kuno menuju puncak gunung Padang / Foto : MNews
TribunMuda, Essai Sejarah Oleh: Drs. Peni Suparto, M.AP - Pada awal 2017 lalu saya mengunjungi sebuah situs megalit yang paling hangat dibicarakan orang beberapa tahun silam, yaitu situs gunung Padang di Cianjur Jawa Barat. Bukit prasejarah berundak lima ini sudah dan sedang diteliti oleh banyak sejarahwan dan arkeolog dalam dan luar negeri. 

Di lihat dari luas, ketinggian dan bentuknya, situs ini disebut sebagai punden berundak terbesar Asia Tenggara. Struktur yang berada di bawah permukaan situs secara ilmiah dipastikan ribuan tahun lebih tua dari Piramida Giza (Mesir) yang hanya 2.500 tahun SM. Laboratorium Beta Miami di Florida Amerika Serikat yang pernah melakukan uji radiometrik karbon dari sampel pengeboran kedalaman 5-12 meter, mengklaim umur sampelnya 14500-23000 SM.

Hingga saat ini belum ada kesimpulan akhir terkait riset gunung Padang. Antar pakar, sejarahwan dan pemerhati situs masih memperdebatkan metode dan relevansi pengungkapan misteri peninggalan manusia purbakala tersebut. Saat saya berada di gunung Padang, diceritakan ada seorang mahasiswi dari Amerika Serikat yang sudah tinggal selama sebulan di sana, barangkali sedang melakukan riset di pedalaman sepi tersebut.

Saya tidak membahas prokontra kesimpulan para arkeolog tentang usia dan bentuk situs kuno ini, karena saya optimis riset tentang situs ini tetap akan dilanjutkan oleh para peneliti dan lembaga riset dalam negeri. Saya menceritakan keberadaan situs Gunung Padang dalam pengamatan sebagai pemerhati sejarah budaya lokal, bahwa tempat itu merupakan sebuah bukti otektik tingginya peradaban leluhur kita dari zaman yang belum mengenal teknologi pengolahan batu-batu alam. Zaman di mana penghuni belahan bumi lainnya rata-rata masih nomaden dan belum begitu maju peradabannya.

Dari puncak gunung Padang saya menyaksikan sebuah karya “manual” manusia yang belum begitu mengenal perkakas logam, dengan memanfaatkan bahan baku alam untuk membangun/menata suatu struktur buatan sebagai sarana kolektif. Tidak ada satupun guratan atau pahatan tulisan di sana. Peradaban yang ‘butahuruf’ ini ternyata sudah memiliki konsep kehidupan kolektif, memahami pentingnya berkelompok untuk mencapai satu tujuan tertentu, yang memiliki kesadaran menciptakan sarana bersama yang aman dari bencana dan gangguan eksternal dengan cara berat sama dipikul ringan sama dijinjing, gotong royong. 

Ribuan tumpukan batangan batu-batu persegi yang panjangnya 1-4 meter diangkut secara massal di puncak bukit tersebut, disusun sedemikian rupa di atas dataran berundak dengan komposisi yang teratur dan memiliki maksud tertentu. Di undakan paling puncak struktur penataan batu-batu persegi terlihat lebih rapat dan mencirikan sebagai sebuah altar ritual kuno. 

Ada proses mobilisasi sumber daya manusia untuk memindahkan, menata dan menancapkan ribuan menhir di puncak gunung Padang. Seandainyapun di dalam perut gunung itu tidak terdapat struktur buatan manusia, situs ini tetaplah fenomenal karena peletakannya pasti menggunakan perencanaan kerja yang terukur dan perancangan yang selain fungsional juga subtantif.

Selain sebagai tempat pemujaan, saya melihat ada kemungkinan puncak gunung Padang merupakan sebuah kompleks “perumahan” kolektif sekelompok manusia purba yang hidup dengan bercocok tanam di lembah-lembah subur di sekeliling gunung. Penghuni gunung Padang, sudah menjalankan pranata spritual tertentu, berhubungan dengan persembahan pada ‘kekuasaan’ gaib yang kasat mata. 

Manusia purba gunung Padang menyadari akan keterbatasan manusia dalam menghadapi bencana alam dan bahaya di sekitarnya. Kelompok nomaden tidak cukup bisa diandalkan untuk melangsungkan kehidupan. Manusia tidak bisa menghadapinya dengan sendirian dan juga tidak bisa mengandalkan hanya pada kelompok – kelompok dalam jumlah sebesar apapun. 

Manusia harus bersatu dalam lingkungan hidup yang aman dan bersandar pada suatu keyakinan bahwa ada kekuatan mahabesar yang berada di luar batas kemampuan manusia. Pemilihan tempat ini memungkinkan bagi masyarakat gunung Padang purba untuk ‘berkomunikasi’ dengan langit, menatap bintang-bintang pada malam gelap sehingga memahami siklus perbintangan. Pada salah satu puncak undakan terdapat gugusan batangan batu-batu kuno yang disusun sedemikian rupa melingkar menyerupai jarum jam yang mengindikasikan mereka sudah menciptakan perhitungan waktu dari arah bayangan matahari.

Dua hal penting yang perlu digaris bawahi dari ulasan di atas adalah: pertama, kesadaran pentingnya kehidupan kolektif – bekerjasama menciptakan sarana untuk kepentingan bersama telah dikenal oleh manusia purba negeri kita. 

Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa kolektifitas yang mewariskan gunung Padang tersebut layak menjadi ‘monumen’ gotong royong pertama di bumi Nusantara. Sejalan dengan sila Persatuan dalam Pancasila; bahwa persatuan untuk mencapai tujuan bersama itu sudah menjadi ciri khas bangsa nusnatara ini sejak lama, bahkan jauh sebelum penulisan sejarah mampu menjangkaunya.

Kedua, spritualitas sudah mewarnai peradaban gunung Padang, yang menunjukkan kesadaran untuk percaya kepada entitas tanpa batas yang berada di luar kebendaan. Kewajiban percaya kepada Tuhan karena merupakan kebutuhan universal manusia, sebagaimana tertuang dalam Sila Pertama Pancasila (Ketuhanan yang Maha Esa) merupakan sesuatu yang telah diwadahi oleh peradaban lampau sebelum Pancasila itu sendiri digali dan dirumuskan. Kita lihat, situs-situs peninggalan sejarah yang besar dan agung merupakan sarana ibadah yang menunjukkan betapa bangsa ini merupakan bangsa religius.

Bukti lain yang menunjukkan kuatnya aspek religiusnya bangsa kita di zaman dahulu adalah keberadaan banyak peninggalan candi. Setelah di gunung Padang saya melanjutkan penjelajahan di beberapa situs-situs kuno lainnya di Jawa Tengah seperti Candi Sambisari, Ratu Boko, Kalasan termasuk Prambanan dan Borobudur yang semuanya dibangun sebelum tahun 900. 

Berbeda dengan gunung Padang yang jaraknya 6-7 jam dari pusat kota (Bandung), situs-situs tersebut relatif mudah dijangkau dari pusat kota seperti Jogjakarta dan Solo. Orang-orang ramai berbondong-bondong berwisata di kawasan tersebut, namun tidak semuanya memikirkan pesan historis dari keberadaan peninggalan sakral tersebut. Berbeda dengan Borobudur dan Prambanan yang menjulang di udara, candi Sambisari justru berdiri di bawah permukaan tanah. Satu kompleks luas yang dikelilingi tebing pelindung  yang kokoh. Tidak hanya di badan candi, di halamannya yang luas pun terdapat drainase yang menghidarkannya dari genangan banjir. Candi ini ribuan tahun terpendam oleh erupsi Merapi.

Saya melihat begitu banyak turis mancanegara yang tertegun, takjub dihadapan Borobudur dan Prambanan. Di antara mereka pastilah banyak gurubesar, arkeolog dan ilmuwan handal. Bangunan besar dan menjulang tersebut di bangun pada tahun 700an masehi dimana belum ada teknologi konstruksi, semen, alat berat dan manajemen proyek berskala besar. Tetapi kedua bangunan raksasa itu berhasil direkonstruksi dalam bentuk aslinya sehingga masih memukau manusia modern. Orang-orang asing dari Eropa dan Amerika yang sedang menikmati masa jayanya dengan capaian teknologi dan ekonomi masakininya pasti merasa "kerdil" ketika berada di bawah bayangan Borobudur dan Prambanan. Keraton Mataram kuno sudah mendirikan megaproyek itu ketika leluhur Barat umumnya masih diselimuti kegelapan pengetahuan. 

Mataram kuno sudah mencetak dan mengkaryakan ribuan seniman takkala umumnya bangsa Barat masih membiarkan perbudakan dan 500 tahun sesudah era Borobudur orang Inggris saat itu baru menghasilkan maklumat Magna Charta (1222-an). Ketika genosida berlangsung berabad-abad di bangsa lain, leluhur kita sebaliknya berkumpul bergotong royong membangun ikon kekerabatan, rumah suci untuk menebarkan kebajikan di muka bumi.

Ukiran-ukiran indah yang terpahat di permukaan Borobudur maupun Prambanan tidak mungkin dihasilkan dari tangan-tangan terjajah dan korban kerja paksa, melainkan dari tangan kreatif dan imajinasi manusia merdeka. Mahakarya yang penuh estetika hanya memungkinkan dibangun berdasarkan sinergi dan kesadaran berkarya. 

Suatu karya-karya besar dalam sejarah dibangun oleh pranata yang stabil dan kelompok masyarakat yang mapan dari semua aspek, sosial politik dan ekonomi. Dan hingga saat ini, mahakarya masa lalu tersebut memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi ekonomi bangsa Indonesia. Maka patut kita hargai dan rawat bersama.

Kita dilahirkan dari peradaban jenius yang plural, yang dalam keanekaragamannya mampu membangun karya sejarah seperti situs gunung Padang, Borobudur, Prambanan, istana-benteng Ratu Boko dan sejumlah karya besar yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Semua itu diciptakan atas dasar gotong royong dan kebersamaan. 

Pondasi kebangsaan telah dibangun oleh leluhur dengan jelas, yang disempurnakan oleh para pendiri bangsa dalam wujud Pancasila yang akhirnya menjadi dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sudah seharusnya, sebagai bangsa pewaris peradaban besar dengan kekayaan SDA yang melimpah, bangsa ini menjadi pemimpin dunia di semua sektor kehidupan. Menjadi penguasa maritim, raja ekonomi, pusat penemuan teknologi dan militer yang adidaya. (Lam).
(Disunting dari Bab 1 Buku "Pancasila Dasar Negara Sudah Final karya Drs. Peni Suparto, M.AP)

Subscribe to receive free email updates: